Postingan

Celoteh Februari

Februari menawarkan cerita baru Sebuah titik balik menuju baik Tujuan yang baik dengan cara yang baik Cinta adalah anugrah Illahi Namun cara menyikapinya adalah pilihan kita Pilihan yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti Saat kita bertemu Illahi Jika sebuah kehilangan Yang bahkan sebenarnya tak pernah kita miliki Mampu membawamu semakin dekat dengan Illahi Maka ikhlaskanlah, bersabarlah Jika memang takdir Illahi menetapkan dia bagimu Sejauh apapun jarak Waktu yang tepat akan mempertemukan Saat masing-masing paham bagaimana cinta harus bertindak

Rumah

Merindukan tempat bernama rumah Pulang menjadi kata dalam angan Masih ada janji yang belum terjawab Mimpi masih menunggu untuk terwujud Merantau telah jadi pilihan Rindu tak bisa berbohong Doa-doa menjadi penawar Semoga Bapak Ibu di rumah selalu sehat Aku rindu Bapak Ibu Salam sayang dari Depok

Curhatan tentang Bisnis

Sekitar dua tahun, gue belajar tentang bisnis. Sampai sekarang gue belum bisa bilang kalau gue seorang pebisnis, entrepreneur ataupun wirausahawan. Masih ngerasa belum layak, masih perlu banyak belajar. Ditambah masih asyik menikmati dunia kampus, setidaknya sampai lulus magister. Selama ini, dunia bisnis mengajarkan banyak hal. Salah satunya berdamai dengan ketidakpastian dan meminimalisir resiko. Gue juga lebih mengenal diri sendiri dan lingkungan. Karena bisnis berkesempatan ketemu dan belajar dengan orang-orang yang inspiratif. Beberapa hal yang tidak mengenakkan pernah gue alami. Pernah ngerintis bisnis sendirian, untung sih tapi susah berkembang. Akhirnya, gue sadar kalo gue tipe orang yang lebih kerja bagus kalau berada dalam tim. Pernah bikin tim akhirnya bubar karena perbedaan visi. Pernah juga bubar karena sibuk masing-masing dan beda prioritas. Pernah dapet project yang tiba-tiba dibatalin secara sepihak. Pernah keluar dari tim karena fokus skripsi. Setahun akhirnya ...

Belajar Jepang untuk Membangun Indonesia

Gambar
22 tahun lalu, tepatnya 28 Mei 1993, saya dilahirkan di Kebumen, Jawa Tengah. Saya berasal dari keluarga sederhana yang penuh kasih sayang. Ketika saya kecil kami masih mengontrak rumah yang belum terdapat listrik saat itu. Saat saya duduk di kelas 2 SD, keluarga kami pindah rumah kontrakan yang lebih dekat dengan tempat kerja ibu. Baru ketika kelas 4 SD, keluarga kami pindah ke rumah sendiri di Dukuh Pejaten, Desa Tanjungsari, Petanahan, Kebumen. Beberapa kali pindah rumah sewaktu kecil membuat saya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Latar belakang profesi keluarga ayah di Kebumen kebanyakan pendidik. Kakek saya adalah pensiunan guru SD, ayah saya pamong belajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), ibu saya guru SMK, om dan tante juga seorang guru. Mereka sangat mendukung pendidikan saya. Lulus SD, saya bersekolah di SMPN 1 Kebumen yang letaknya di pusat kota yang berjarak sekitar 15 km dari rumah. Saya harus naik sepeda sampai jalan yang dilalui angkot karena tidak ...

Budaya Miskin, Adakah di Dirimu?

             Budaya miskin belum tentu tidak dimiliki oleh orang yang kaya harta. Belum tentu tidak dimiliki oleh lulusan S2 bahkan S3. Mungkin saja budaya miskin saat ini ada di dalam dirimu tetapi kamu belum menyadarinya. Nah, sebenarnya apa itu budaya miskin?              Budaya miskin mencerminkan putus asa dan tanpa harapan yang merupakan perwujudan dari kesadaran bahwa mereka merasa musthail dapat meraih sukses dalam kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan masyarakat luas. Sedangkan Oscar Lewis mendefinisikan budaya miskin sebagai kemiskinan yang muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etos kerja  dan sebagainya. Pandangan lain mengenai budaya miskin menurut Mudjahirin Thohir adalah ada kaitannya dengan pandangan keliru dalam dimensi keag...

Pengemis Tua

Saat bersih-bersih, tidak sengaja ditemukan sebuah kliping puisi. Puisi yang berjudul Pengemis Tua tersebut ditulis saat saya duduk di kelas 6 SD (2004/2005). Ini puisi pertama saya yang berhasil muat di Tabloid Yunior atau koran Suara Merdeka edisi anak yang terbit di hari Minggu. Semoga puisi lama ini semakin membuat saya bersemangat menghasilkan tulisan yang dapat dimuat di berbagai media. Pengemis Tua Pengemis tua itu masih ada Selalu... Mengharap belas kasih sesama Walaupun terik matahari Serasa memanggang tubuh Jika malam tiba Tidur di bawah jembatan Beralaskan kardus bekas Berselimut malam Kehidupan ini dijalani Dengan sabar Sampai darah berhenti mengalir

Sekilas Cerita Menuju Sarjana

Gambar
Awalnya saya tidak berniat masuk Universitas Indonesia. Kampus di wilayah Yogyakarta atau Jawa Tengah menjadi pilihan saya. Orang tua awalnya juga tidak mendukung untuk kuliah terlalu jauh. Namun, setelah berkenalan dengan beberapa mahasiswa UI dan mengobrol mengenai hal-hal yang akan dipelajari di tanah rantau sana, saya kembali berpikir untuk memilih Universitas Indonesia menjadi pilihan studi saya. Setelah mendapat restu orang tua, saya memberanikan diri memilih Universitas di SNMPTN Undangan 2011. Saya memilih program studi Jepang Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama. Kenapa Program Studi Jepang? Saya mendapat pelajaran bahasa Jepang selama dua tahun di SMA sehingga Ayah saya merekomendasikan jurusan tersebut. Beliau menolak saya mengambil jurusan yang berhubungan dengan ekonomi karena mainsteam katanya. Selain itu, saya juga kagum dengan budaya dan etos kerja orang Jepang. Alhamdulillah, saya diterima di Program Studi Jepang melalui SNMPTN Undangan 2011. Perjuangan sel...