Postingan

Menampilkan postingan dengan label review

Goodbye Things (Part 2)

Gambar
Sekarang sedang ngetrend orang-orang mulai hidup minimalis. Di bulan lalu, saya sudah posting mengenai hidup minimalis ala orang Jepang part 1. Di buku karya Fumio Sasaki ada 70 tips untuk hidup minimal. Saya akan rangkum beberapa tips di tulisan singkat kali ini. Buang dalam tulisan ini bukan maksudnya selalu dibuang ke tempat sampah ya. Bisa juga diberikan ke orang lain atau dijual kembali. Semoga bermanfaat :) 1. Buang jauh-jauh pikiran bahwa kita tidak mampu membuang barang. Kita semua sebenarnya mampu berpisah dengan harta benda kita. Penyebab kemampuan itu belum terwujud adalah kita belum punya "pengalaman membuang". Kita tidak terbiasa membuang barang. Malah sebaliknya, kita terbiasa menyimpan barang. Membuang barang memang membutuhkan keterampilan. Hidup minimalis pun begitu. Kita tidak menguasai membereskan dan menyingkirkan barang dalam semalam. Tidak perlu memaksakan menyingkirkan semuanya dalam waktu satu malam. Kita justru perlu memikirkan alasan menga...

Review Buku Esai-Esai Untuk Negeri

  “Untuk Laras Wijayanti. Dengan membacanya, Anda menghargai proses   buku ini” ditulis langsung oleh Romo Mudji Sutrisno, penulis buku ini. Membaca buku esai-esai untuk negeri membuat saya banyak merenung. Merenung mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar saya yang terkadang tidak disadari maknanya. Saya kembali menanyakan diri saya apakah nilai-nilai hidup yang baik sudah meresap dalam diri saya. Ada berbagai esai yang menarik perhatian saya untuk meresapinya lebih dalam. Pada review ini, saya menuliskan bab-bab yang membuat hati saya paling tertarik untuk merenungkan. Etika merupakan pedonan hidup baik dan berharga yang menciptakan keharmonisan antara manusia dan alam. Etika sebagai pedoman hidup dapat jumpai melalui melalui ungkapan-ungkapan bermakna life wisdom (kearifan-kearifan hidup). Life wisdom ini dapat kita temui pada peribahasa, pantun, gurimdam, petatah, cerita-serita atau narasi lokal, tarian, nyanyian. Nusantara sejak dulu sebenarnya kaya akan kearifan-k...

Malala, Kandidat Nobel Perdamaian Termuda

Gambar
Saya mengenal sosoknya lewat media sosial sejak dua tahun lalu. Malala, sosok aktivis perempuan yang menjadi kandidat peraih Nobel Perdamaian termuda ini sangat menginspirasi.  Kondisi perang di negaranya tidak  menyurutkan semangat memperjuangkan pendidikan yang kisahnya ditulis dalam sebuah buku. I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban adalah judul asli buku ini yang ditulis dalam bahasa Inggris. Namun sebenarnya dalam buku ini, Malala lebih ingin dikenal dunia sebagai anak yang berjuang untuk pendidikan dibandingkan sebagai anak perempuan yang ditembak oleh Taliban. Pada Mei 2014, diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan dengan judul I Am Malala: Menantang Maut di Perbatasan Pakistan-Afganistan . Buku yang ditulis sendiri oleh Malala Yousafzai bersama Christina Lamb (seorang jurnalis kawakan yang biasa menulis mengenai Pakistan dan Afganistan) ini membahas tentang perjuangan Malala, seorang anak perempuan muda Pakistan yan...